Tim Ikatan Mahasiswa Langsa (IMLA) tampil sebagai juara dalam turnamen futsal yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol Universitas Sumatera Utara (IMIB USU) di Bali Futsal, Minggu (22/2). IMLA menaklukkan Tim Kotanopan di partai final dengan skor 3-2 dan berhak membawa pulang trofi juara pertama beserta piagam.
Permainan menyerang dengan koordinasi yang apik antar pemain ditampilkan IMLA sejak menit-menit awal. Kecepatan permainan IMLA membuat Kotanopan kesulitan dalam mengimbanginya. “Permainan IMLA memang bagus, terkordinasi”, ujar Ari, salah satu peserta turnamen yang menyaksikan partai final ini.
Sedangkan tuan rumah sendiri yang mengrimkan dua tim, IMIB A dan IMIB B kandas di semifinal dengan skor yang sama. IMIB B yang berjumpa dengan Kotanopan menyerah dengan skor 3-2. Sedangkan IMIB A takluk dengan skor sama dalam partai semifinal melawan IMLA yang akhirnya keluar sebagai juara.
Antar Organisasi Daerah
Turnamen futsal yang berlangsung dari pukul 16.00-19.00 WIB ini dikuti oleh delapan tim yang berasal dari organisasi mahasiswa daerah yang berada di Medan. Kedelapan tim tersebut adalah IMLA, Kotanopan, FARAL (Forum Anak Rantau Asal Lampung), Ima Madina (Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal), Imakopasid (Ikatan Mahaasiswa Kota Padang Sidempuan), IMAPS (Ikatan Mahasiswa Pesisir Selatan), serta dua tim tuan rumah, IMIB A dan IMIB B.
“Hanya tim Kotanopan yang bukan dari organisasi daerah. Karena mereka organisasinya belum terbentuk,” ujar Jefri, koordinator turnamen futsal ini. Selain itu, menurut mahasiswa Teknik Mesin USU angkatan 2006 yang akrab disapa Ijonk ini, panitia sebenarnya juga mengundang organisasi daerah lainnya. Tapi ada yang tidak bisa ikut berpartisipasi karena berbagai hal.
Ijonk menambahkan, turnamen futsal ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan sesama organisasi primordial. “Tujuannya silaturahmi. Karena pesertanya bukan hanya anak USU. Tapi juga dari UISU, Unimed, PTKI, dan lainnya,” ujar Ijonk yang juga Ketua Bidang Minat dan Bakat IMIB USU ini.
Malam Kesenian, Acara Puncak
Turnamen futsal ini sendiri merupakan bagian dari rangkain kegiatan Semarak Minang di Kota medan yang diadakan oleh IMIB USU. Sebagai acara puncaknya, IMIB USU akan menggelar Malam Kesenian Kebudayaan Minangkabau, di Rumah Gadang BM3, Jalan Adinegoro Medan, Jumat (27/2).
“Turnamen futsal ini merupakan rangkaian kegiatan dari Semarak Minang di Kota Medan 2009 yang diadakan IMIB USU. Turnamen digabungkan dalam kegiatan malam kesenian tersebut,” jelas Ijonk lagi.
Acara malam kesenian ini sendiri akan menampilkan tari-tarian dan nyanyian Minang. Selain itu, akan ditampilkan juga parodi Minang yang bercerita tentang Malin Kundang. “Kita akan menampilkan kesenian Minang, seperti Tari Pasambahan, Tari Rantak, Tari Indang, dan Tari Piring. Semuanya akan dibawakan oleh anggota IMIB yang merupakan mahasiswa USU,” jelas Aulia, ketua panitia kegiatan ini. (Ade Marza)
Dalam melihat realitas sosial ,cara pandang setiap individu dengan individu yang lain terhadap persoalan yang sama akan berbeda, tergantung paradigma yang digunakan oleh individu tersebut. Karena demikian vital dalam menyikapi realitas yang ada kemudian timbul pertanyaan apa paradigma itu ? Pergeseran paradigma terjadi sebagaimana perkembangan ilmu-ilmu sosial, kebanyakan sulit untuk didefinisikan, dan merupakan suatu cita-cita konseptual yang memberi inspirasi atau mengilhami suatu pemikiran dari masyarakat tertentu , mengarahkan perhatian-perhatianya dan menentukan kesadaran yang kuat akan bentuk obyektivitas dari realitas dalam masyarakat, tetapi banyak dari kalangan pemikir-pemikir ilmu sosial memberikan gambaran tentang definisi paradigma. Inti dari pengertian paradigma yaitu merupakan titik pijak untuk menentukan cara pandang , menyusun sebuah teori ,pertanyaan dan membuat rumusan mengenai suatu masalah. Lewat paradigma ini pemikiran seseorang dapat dikenali dalam melihat dan melakukan analisa atas suatu masalah. Perbedaan paradigma yang digunakan oleh seseorang dalam memandang suatu masalah akan berakibat pada timbulnya perbedaan menyusun teori, membuat konstruk pemikiran cara pandang sampai pada aksi dan solusi yang diambil.A. Beberapa paradigma yang berlaku secara umum dalam ilmu sosial
Menurut william perdue dalam ilmu sosial dikenal adanya tiga klasifikasi utama dari paradigma yaitu: paradigma keteraturan (order paradigm), paradigma keberagaman ( pluralis paradigm ) dan paradigma konflik ( conflic paradigm ) . Untuk memahami perbedaan dari masing-masing paradigma diatas akan dipaparkan pengertian sebagai berikut :
1. paradigma keteraturan ( order paradigm )
paradigma keteraturan mempuyai asumsi dasar mengenai sifat dasar manusia (human nature) , asumsinya adalah sebagai berikut, pertama , imajinasi mengenai sifat dasar manusia yaitu; berakal, memiliki kepentingan pribadi, adanya ketidakseimbangan personal dan berpotensi memunculkan disintegrasi sosial ( tipe ideal berdasarkan asumsi ini adalah pandangan hobes mengenai konsep dasar negara), kedua,imajinasi tentang masyarakat yaitu kohesif, terintegrasi, memiliki daya kekang diri dan adanya ketidakseimbangan ( tipe ideal berdasarkan asumsi ini adalah negara republik menurut pandangan plato), ketiga,imajinasi mengenai ilmu pengetahuan yaitu sistematik,positivistik, empirik, kuantitatifdan prediktif ( tipe ideal berdasarkan asumsi ini fungsionalisme keilmuan pandangan august comte).
Dari paparan diatas menunjukkan bahwa paradigma keteraturan merupakan suatu pandangan berpikir yang mengasumsikan bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki potensi untuk berpecah akibat dorongan interes pribadi, namundapat di cegah berkat kemampuan rasio sehingga timbul adanya konsensus dan integrasi yangn berupa norma, nilai dan sejenisnya. Konsensus ini yang memiliki kekuatan untuk menekan potensi disintegrasi manusia . Konsekwensi dari pola pikir yang demikian paradigma keteraturan melihat teori adalah sesuatu yang positivistik, empirik, kuantitatif dan prediktif.
2. Paradigma keberagaman (pluralis paradigm)
Paradigma menggunakan filsafat idealisme yang meyakini adanya keterkaitan antara obyek dan akal, keterkaitan logika dan harus terdiri dari pemikiran yang subyektif. Bahwa tindakan manusia memiliki kekuatan yang tidak dapat dapat diprediksi, adanya sebuah kesadaran yang dimiliki oleh setiap manusia. Teori ini melakukan penelitian secara meyeluruh atas gagasan yang ada dalam kesadaran kita kita mengenai bagaimana aktor sosial menafsirkan dan membuat dunia empirik mengenai mereka.Dalam paradigma ini lebih mengedepankan aspek kualitatif dibandingkan aspek kuantitatif. Asumsi yang digunakan adalah; pertama, pandangan dasar manusia yaitu disengaja aktif, suka rela dan rasional (tipe ideal konsep kesadaran diri dari Imanuel kant ) ,kedua, pandangan dasar mengenai masyarakat yaitu kerja sama antagonisme pernyataan pemikiran, pertukaran makana, dan dibentuk karena adanya faktor dari dalam( (pandangan Rousseu tentang masyarakat).ketiga, pandangan mengenai ilmu pengetahuan yaitu filsafat idealisme, tindakan manusia tidak dapat diprediksi terbentuknya karakter dari dalam dan bersifat kualitatf.
3. Paradigma konflik ( conflic paradigm )
Paradigma ini memandang manusia sebagai mahluk yang oyektif yang hidup dalam realitas sosial , maka filsafat materialisme merupakan dasar dari ilmu pengetahuan manusia. Meletakkan pikiran, kehendak dan munculnyaperasaan secara sederhana, meskipun hanya dapat menjelaskan dalam istilah realitas sosial yang material dan kemudian disebut dengan istilah realitas sosial ganda serta bahan-bahan teori (termasuk konsep utama dan urutan logika ) harus merujuk pada imperativ oyektif. Realitas yang kontradiksi dan fenomena fakta sosial yang sering muncul dalam sebab akibat akan direfleksikan oleh teori konflik melalui logika dialektik dan endingnya adalah terciptanya dunia lebih baik. Asumsinya adalah: pertama, image tentang sifat dasar manusia yaitu pencipta, cooperativ, rasional dan sempurna kedua , image tentang masyarakat yaitu interdependent, struktural, menyeluruh, dan dinamis. Ketiga, tentang masa lalu dan masa kini yaitu timpang penuh tekanan dan pertarungan . keempat pandangan tentang masa depan yaitu utopia dan egaliter.kelima image tentang ilmu pengetahuan yaitu filsafat materialisme, historis, holistik (menyeluruh), dialektikdan terapan.
B. Apakah paradigma kritis transformatif itu ?
Paradigma kritis merupakan kolaborasi dari paradigma pluralis dan paradigma konflik. Teori kritis adalah sangat heterogen anti dogmatis dan menolak segala macam ideologi serta pembakuan hidup yang bisa membelenggu dan mengurangi kebebasan manusia. Sedangkan transformatif adalah kristalisasi dari pemikiran-pemikiran kritis yang dirancang untuk menghasilkan gerakan sehingga tanpa adanya pemikiran-pemikiran kritis, apa yang disebut transformasi tidak akan pernah terwujud. Sedangkan teori kritis ini diarahkan pada prasyarat-prasyarat komunikasi yang terbuka dan bebas.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan PMII memilih paradigma kritis sebagai dasar dalam bertindak, cara pandang serta mengaplikasikan dalam melakukan analisa antara lain, pertama, masyarakat Indonesia saat ini sedang terbelenggu nilai-nilai kapitalisme modern, dimana kesadaran masyarakat terkekang dan diarahkan pada satu titik yaitu budaya massa kapitalisme dan pola pikir positivistik modern.Pemikiran ini yang telah menjadi ideologi dan berhala yang mengharuskan semuaorang untuk mengikatkan diri padanya. Karena jika tidak akan dipinggirkan dan ditinggalkan.sehingga exsistensi tidak diakui.
Kedua, masyarakat
Ketiga, akibat ruang publik masyarakat hilang karena direnggut kekuasaan negara orde baru pada saat yang represif dan otoriter dampak lebih lanjut dari kondisi yang demikian masyarakat dihinggapi budaya bisu. Sehingga mengganggu proses demokratisasi karena sikap kritis di berangus.
Keempat, selama pemerintahan yang menggunakan paradigma keteraturan dengan teori-teori modern yang direpresentasikan melalui ideologi developmentlisme masa NU yang di dalamnya PMII di marjinalisasikan secara total, hal ini karena NU dianggap sebagai masa tradisional yang merupakan anti tesis dari pola pikir modern.
Kelima, di samping belenggu sistem sosial politik yang dilakukan negara dan sitem kapitalisme global yang terjadi sebagai akibat perkembangan situasi, faktor yang secara spesifik terjadi dikalangan PMII adalah kuatnya belenggu dogmatisme agama dan tradisi. Maka secara tidak sadar telah terjadi berbagai pemahaman yang distortif mengenai ajaran dan fungsi agama. Dogmatisasi agama mengakibatkan tidak ada beda mana yang dogma dan mana pemikiran terhadap dogma, akibatnya agama menjadi kering dan beku bahkan tidak jarang agama justru menjadi penghalang bagi kemajuan dan upaya penegakan nilai kemanusiaan. Dalam upaya mengembalikan fungsi dan ajaran agama maka diperlukan adanya dekontruksi pemahaman keagamaan.
Dari uraian diatas, Paradigma Kritis yang dilandasi pemikiran Mohammad Arkoun dan Hasan Hanafi sebenarnya berupaya membebaskan manusia dengan semangat dan ajaran agama yang lebih fungsional, dengan kata lain Paradigma Kritis barat berdasarkan pada semangat revolusioner sekuler dan dorongan kepentingan sebagai dasar kebijakan, sebaliknya Paradigma Kritis PMII justru menjadikan nilai-nilai agama yang terjebak dalam dogmatisme itu sebagai pijakan untuk membangkitkan sikap kritis melawan belenggu yang kadang disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang distortif. Paradigma Kritis PMII didorong oleh spirit religiousitas dalam melakukan kritik dan pembebasan namun demikian harus diakui ada persamaan antara keduanya yaitu dalam metode analisa bangunan teoritik dan semangat pembebasan yang erkandung didalamnya. Jika Paradigma Kritis ini diterapkan dikalangan warga pergerakan khususnya PMII maka kehidupan keagamaan akan bisa berjalan dinamis dan kultur demokrasi akan terbentuk.
by; pmii's Site
Ikatan Mahasiswa Langsa - Medan (IMLA - Medan) telah berhasil menyelenggarakan event futsal yang bernama IMLA FUTSAL COMPOTION pada tanggal 1 - 6 Juni 2010 di Lapangan Langsa Futsal Club. Kegiatan ini mengusung tema "Semangat Muda, Semangat Anak Langsa, We Love Sport". Kegiatan ini telah diikuti sebanyak 20 Tim Futsal Se Kota Langsa yang terdiri dari Pelajar dan Mahasiswa yang berada di Kota Langsa. Ketua Panitia Chary Mustika "Petonk" Mengatakan "Acara ini merupakan langkah awal dalam meningkatkan perkembangan, semangat dan kemajuan olahraga di Kota Langsa khususnya Futsal dalam rangka menumbuhkan jiwa Sportivitas dan Fair Play dalam berkompetisi.Disamping itu Chary sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Langsa, DPRK Langsa dan Pihak Sponsor LA Light karena telah memberikan dukungan yang luar biasa kepada kami dalam mengsukseskan agenda kegiatan Sawoe Gampong.
Ketua Umum IMLA - Medan Rizki Maulana dalam sesi lain mengatakan "kegiatan ini merupakan sumbangsih moril dari sahabat-sahabat IMLA - Medan terhadap tanah kelahiran (Kota Langsa) dalam menuntut ilmu di Kota Medan - Sumatera Utara.
Kegiatan ini secara langsung telah dibuka oleh Ketua DPRK Langsa bapak Muhammad Zulfri, ST yang juga merupakan Dewan Penasehat IMLA - Medan.
Terima Kasih kami ucapkan kepada Semua Sahabat-sahabat IMLA - Medan atas Kerjasama yang baik.
Dalam rangka memperingati hari jadi ke 47, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UISU menyelenggarakan gebyar kegiatan olahraga sepak takraw, volley, futsal, badminton, catur, trup gembira, MTQ, musik, service gratis dan bazaar mini memperebutkan piala Dekan Fisip UISU.
Kegiatan yang berlangsung mulai 2 sampai 13 Maret 2010 dibuka Rektor UISU dr Chairul Mursin SpAn dihadiri Ketua Koni Kota Medan Drs H Zulhifzi Lubis (opung Ladon), Dekan Fisip Dra Siti Zulfa MSi, Pembantu Dekan I Drs Husni Hasan MSi, Pembantu Dekan III Drs M Ridwan, Ketua Jurusan Program Studi Ilmu Administrasi Negara Drs H M Akhir Nawawi dan Ketua Jurusan Program Studi Humas Drs Syafaruddin Pohan MSi.
Dekan Fisip Siti Zulfa mengharapkan, kegiatan ini untuk mengangkat imej kepada masyarakat bahwa UISU masih tetap eksis dalam melakukan proses pendidikan tinggi.
Melalui kegiatan ini, juga diharapkan menjadi ajang promosi terutama dalam penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2010/2011 mendatang.
“Gebyar milad Fisip UISU diharapkan lulusan SMA sederajat berniat untuk kuliah dan mendapatkan ilmu pengetahuannya di kampus UISU Jl SM Raja Medan,” katanya.
Oleh karenanya diimbau kepada masyarakat Sumut dan sekitarnya, agar jangan ragu dan goyah untuk memasukan anaknya di kampus UISU SM Raja.
Masalah yayasan yang bertengkar tak akan mempengaruhi proses belajar mengajar di kampus yang berlangsung lancar, kondusif dan aman sesuai dengan kalender akademik yang telah berlaku.
Menurutnya, terselenggaranya milad Fisip UISU ini berkat kepemimpinan fakultas, mahasiswa dan kerjasama yang telah diberikan Koni Medan yang mendukung penuh kegiatan ini secara baik.
Sejak kepemimpinan Dekan Siti Zulfa, suasana kekompakan, kebersamaan dan kekeluargaan berjalan penuh demokratis, terutama bagi kalangan dosen yayasan maupun dosen Kopertis DPK UISU.
Fisip yang kini mengasuh sekitar 250 orang mahasiswa aktif dan telah menghasilkan alumni ribuan orang akan terus memberikan sumbangsih pemikiran dan kontribusi lulusan yang berkualitas dan mendapat legalitas di pasar kerja dan dunia usaha sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan globalisasi.
Kepada semua pihak elemen masyarakat diingatkan agar jangan mudah terpancing isu-isu maupun informasi yang tak benar. Khususnya bagi mahasiswa dan orang tua hendaknya lebih selektif dan objektif menilai berita miring yang selama ini mendiskreditkan UISU SM Raja.
Kegiatan milad Fisip UISU ini merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya dalam rangka menjalin persatuan dalam menciptakan rasa kebersamaan serta menghindari pihak-pihak lain yang berkeinginan menghancurkan suasana kondusif yang sudah terbina selama ini dengan baik. [hmt]
Organizing Commitee berasal dari kata Organisasi dan Komite. Organisasi yaitu kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan visi-misi yang sama. Sedangkan Komite yaitu Komisi atau Badan yang bertanggung jawab terhadap suatu program (kegiatan).
Jadi, Organizing Committee adalah suatu kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dalam melaksanakan suatu kegiatan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Dengan kata lain, Organizing Committee disebut juga sebagai Panitia Pelaksana.
II. PROSES LAHIRNYA KEGIATAN
Proses lahirnya sebuah kegiatan dan bagaimana peran OC didalamnya:
Fungsi Administrasi: - Planning - Organizing - Aktuated - Controling - Evaluated STEERING COMMITTEE (pengawas) ORGANIZING COMMITTEE (pelaksana)
( MANAJEMEN KEGIATAN )
Keterangan Gambar:
Sebuah kegiatan lahir oleh adanya fungsi administrasi yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuated), pengawasan (controlling) dan pengevaluasian (evaluated).
Fungsi administrasi tersebut dilaksanakan oleh Organizing Committee (OC) sebagai panitia teknis dalam melakukan program dan kinerja dari pada tim OC akan mendapatkan pengawasan oleh Steering Committee (SC) agar kinerja OC dapat terlaksana sesuai yang di rencanakan.
Dengan terlaksananya fungsi tersebut maka terlahirnya sebuah kegiatan yang sukses berkat kinerja baik yang terbentuk secara sistematis.
Konsep demikian disebut dengan Manajemen Kegiatan
III. PRINSIP MANAJEMEN KEGIATAN
Pada dasarnya lahirnya sebuah kegiatan didasari oleh sebuah perencanaa yang telah terfikirkan untuk dilaksanakan sebagai sebuah daya kreativitas manusia. Sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan, para pelaksana berharap agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan sukses serta bermanfaat bagi setiap peminatnya baik secara moril maupun materil.
Oleh sebab itu, suatu perencanaan yang baik yang didasari pada pelaksanaan dan tim work yang produktif seyogyanya akan melahirkan sebuah kegiatan yang seperti diharapakan. Sebuah prinsip manajemen kegiatan yang wajib diketahui dan dilakukan bagi setiap pelaksana kegiatan (Panitia atau IO) agar kegiatan terlaksana dengan baik dan sukses yaitu:
“Semua kegiatan atau aktifitas manusia haruslah dikelola dengan baik. Jika tidak biasanya hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Ciri kegiatan yang tidak berhasil adalah tujuan yang tidak tercapai, waktu yang dibutuhkan terlalu lama/tidak sesuai rencana atau biaya yang terlalu besar.Bisa salah satunya atau gabungan dari ketiganya itu”.
IV. ALASAN MENGAPA ADANYA PROGRAM KEGIATAN
a. Melanjutkan Program Terdahulu
Dalam sebuah organisasi atau lembaga dalam menjalankan program/agenda proses kerjanya, kegiatan-kegiatan yang telah menjadi program rutin organisasi merupakan hal yang harus dilaksanakan. Menjalankan sebuah organisasi konkritnya adalah melaksanakan setiap agenda rutin organisasi dan melanjutkan setiap program yang telah teragenda pada organisasi atau lembaga tersebut. Petaka terjadi apabila sebuah organisasi/lembaga tidak dapat melanjutkan program terdahulunya yang akan mengakibatkan mati atau berhentinya sebuah organisasi/lembaga.
b. Menerima Order dari Pihak Lain
Pada setiap pelaksana kegiatan atau yang lebih dikenal dengan Event Orginizer ataupun pada setiap organisasi/lembaga lainnya, kegiatan juga dapat lahir dari sebuah penawaran dari pihak lain. Penerimaan kegiatan dari sebuah pihak lain merupakan sebuah bentuk pelaksaanaan kegiatan yang biasanya bersifat kontrak kerja ataupun join partner untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Hal-hal seperti itu dapat terjadi apabila kita dapat menjalin komunikasi yang baik antar lembaga maupun membuka jaringan organisasi dengan berbagai pihak.
c. Ada Program yang Bersifat Dropping dari Struktur yang Lebih Tinggi
Pada organisasi yang mempunyai sifat struktur hirarkis dan garis koordinasi pada tingkatan pusat hingga di daerah yang lebih kecil, sering terjadi suatu dropping dari tingkatan atas kepada area organisasi dibawahnya sebagai sebuah program pusat untuk daerah yang harus dilakukan didaerah. Contoh, Sebuah organisasi pada tingkatan DPP memberikan suatu program kegiatan kepada organisasi pada tingkatan DPD.
d. Program Rekayasa Baru
Lahirnya sebuah kegiatan tidak hanya bersifat rutinitas ataupun dropping, akan tetapi bagi sebuah organisasi yang melahirkan suatu idea atau gagasan-gagasan yang akan diperbuat dan digerakkan juga merupakan alas an mengapa lahirnya sebuah kegiatan itu. Karena, sensasi ataupun inovasi baru adalah hal yang menunjang organisasi/IO untuk dapat terus eksis dan berbuat dalam menunjukkan eksistensinya. Berlomba-lomba untuk melahirkan program baru juga merupakan suatu kompetisi positif dalam menunjukkan kompetensi dan produktivitas lembaga tersebut.
e. Program untuk menyelesaikan masalah yang timbul
Pada setiap organisasi ataupun lembaga, konflik ataupun masalah sedikit banyak pasti terjadi. Konflik dianggap penting karena dengan adanya hal tersebut kita dapat menilai sejauhmana kondisi organisasi saat ini. Dalam situasi tersebut, solusi yang dapat dilakukan salah satunya adalah bagaimana organisasi dapat melaksanakan suatu kegiatan yang diharapkan dapat meyelesaikan permasalahan itu. Hal-hal tersebut sering dianggap mudah, akan tetapi apabila konflik terus terjadi pada organisasi maka akan membahayakan keadaan organisasi pula.
Inti dari pada alasan mengapa adanya program kegiatan adalah Kalau organisasi tidak ingin berhenti dari dinamika kehidupan maka harus ada kegiatan secara berkesinambungan.
V. FUNGSI PANITIA UNTUK MELAKSANAKAN KEGIATAN
a. Menyebarkan Informasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan perlu adanya panitia. Panitia merupakan orang yang bertanggunng jawab atas kesuksesan jalannya kegiatan. Salah satu fungsi panitia adalah publikasi kegiatan atau penyebaran informasi. Kegiatan yang telah terencana dan akan dilaksanakan perlu adanya penyebaran informasi untuk terlebuh dahulu. Dengan tujuan agar kegiatan dapat diketahui oleh semua pihak dan akan berdampak positif pada kemeriahan kegiatan tersebut.
b. Menghasilkan Ide
Selain menyebarkan informasi, panitia juga berfungsi untuk menghasilkan ide-ide yang dianggap penting dalam pelaksanaan kegiatan. Ide-ide yang dilahirkan oleh panitia sangat diperlukan bagi kelangsungan kegiatan karena baik secara konsep maupun teknis, ide-ide panitialah yang akan mengatur itu semua.
c. Menyelesaikan Masalah
Dalam melaksanakan kegiatan, panitia tidak selalu dihadapkan pada situasi yang baik atau berjalan dengan lancar. Akan tetapi, pada setiap pelaksanaan kegiatan kerap sekali terjadi masalah-masalah didalam, baik itu permasalahan internal maupun ekternal. Maka oleh sebab itu, panitia harus dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi dengan semata-mata tujuannya adalah kegiatan dapat kondusif dan terlaksana dengan baik.
d. Mewujudkan Koordinasi, Komunikasi dan Kerja Sama
Panitia bertanggung jawab penuh atas kesuksesan atau kegagalan dalam pelaksanaan kegiatan. Setiap panitia bercita-cita agar setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sukses. Maka oleh sebab itu, koordinasi, komunikasi dan kerja sama merupakan hal yang mutlak harus dilakukan oleh panitia agar tujuan dari pada kesuksesan kegiatan.
e. Membuat Keputusan-Keputusan
Panitia berwenang untuk membuat keputusan-keputusan yang penting bagi pelaksanaan kegiatan. Apalagi disaat kondisi kegiatan krisis yang membutuhkan keputusan yang cepat dan tepat demi kelangsungan kegiatan.
f. Melaksanakan Kegiatan
Suatu fungsi yang normative bagaimana panitia seyogyanya harus melaksanakan kegiatandari mulai persiapan sampai selesainya kegiatan. Segala bentuk konsep maupun teknis kegiatan harus dilaksanakan oleh panitia dengan harapan agar kegiatan dapat terlaksana dengan sukses.
VI. MENGANALISA KEBUTUHAN KEGIATAN
Dalam membentuk tim Organizing Committee yang baik setiap anggota panitia harus dapat menganalisa atau membuat rancangan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan. Dengan adanya analisis kebutuhan kegiatan akan memudahkan kerja panitia dalam mempersiapkan dan melaksanakan proses kegiatan. Proses kinerja yang sistematis dan praktis akan terbentuk pada tim OC dalam melakukan kegiatan.
Maka oleh sebab itu, cara yang dilakukan tim OC untuk menganalisis kebutuhan kegiatan adalah:
a. Buatlah rencana kerja kegiatan: mengapa, apa, kapan, dimana, siapa dan bagaimana.
b. Buatlah tahapan kerja, bayangkan kegiatan yang diharapkan, lalu tentukan apa saja yang harus dilakukan untuk mencapainya.
c. Rincilah kebutuhan kegiatan tersebut: jumlah panitia, peserta, ruang, tempat, waktu, pembicara/narasumber, peralatan, perlengkapan, uang (pemasukan dan pengeluaran), dan lain-lain.
d. Bentuk panitia yang jumlah orang dan bagian-bagiannya sesuai dengan kebutuhan.
Tips untuk memudahkan bagi OC dalam menganalisa kebutuhan kegiatan yaitu: Tulis apa yang akan dikerjakan, Kerjakan apa yang telah anda tulis dan Tulis apa yang telah anda kerjakan.
VII. MENDESAIN STRUKTUR KEPANITIAAN
Suksesnya suatu kegiatan tergantung dari pada bagaimana kinerja panitia dalam membentuk tim yang baik dalam pelaksanaan kegiatannya. Membentuk tim OC yang baik adalah salah satu upaya yang harus dilakukan agar kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sukses. Mendesain struktur kepanitiaan yaitu poin penting yang harus dilakukan agar proses tim kepanitiaan dapat terbentuk dengan solid. Kesolitan kinerja panitia akan memudahkan proses pelaksanaan kegiatan yang berjalan dengan sukses.
Cara mendesain struktur kepanitiaan dalam membentuk tim OC yang baik adalah:
a. Menyusun kepanitiaan dengan menempatkan orang sesuai dengan kemampuannya.
b. Syarat menjadi panitia; mau, tahu, mampu dan ada waktu.
c. Buatlah struktur organisasi kepanitiaan.
d. Buatlah “job description” (uraian kerja) per bagian dan lebih baik lagi per orang.
e. Buatlah jadwal kerja untuk semua bagian
VIII. FUNGSI KETUA PANITIA SEBAGAI KOORDINATOR PELAKSANA KEGIATAN
a. Merencanakan Kerja Panitia
Ketua panitia sebagai koordinator kegiatan menpunyai fungsi yang urgen yaitu dalam merencakan kerja panitia. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan kegiatan kepemimpinan ketua panitia berpengaruh besar atas kinerja panitia. Keseluruhan kinerja tim OC selalu di bawah control ketua panitia.
b. Mengadakan Rapat Koordinasi
Rapat merupakan hal yang tidak asing bagi setiap lembaga, baik itu juga pada kepanitiaan. Rapat koordinasi merupakan hal yang harus dilakukan oleh kepanitian agar terbentuknya tim yang baik. Karena dalam rapat koordinasi semua permasalahan ataupun persiapan acara akan dibahas dan diterapkan dalam proses pelaksanaan kegiatan. Peran ketua panitia juga dituntut besar melahirkan inisiatif untuk mengadakan rapat koordinasi.
c. Menyimpan Dokumen dan Informasi
Disamping akan kebutuhan teknis, dokumen dan informasi juga hal yang harus ditata dan dikeloa dengan baik agar tidak terjadi kebocoran-kebocoran informasi diluar panitia. Selain ketua panitia, peran sekretaris panitia juga dituntut besar pada bidang ini. Karena sekretaris panitia merupakan pendamping ketua panitia dalam penyelesaiaan permasalahan dokumen dan kesekretariatan.
d. Memotivasi Panitia untuk Bekerja
Dalam pelaksanaan kegiatan, panitia pasti dihadapkan dengan berbagai keadaan yang suka maupun duka. Disaat tim panitia mengalami dinamika dimana kepanitiaan mulai menunjukkan ketidakseriusan atau kejenuhan dalam proses kinerja, maka pada situasi ini peran ketua panitia diharapkan besar dalam penyelesaiaannya. Memotivasi panitia untuk bekerja dan merasionalisasikan bahwasanya tujuan dan titik puncak keberhasilan panitia apabila suatu program kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sukses. Maka dengan demikian, panitia dapat termotivasi dengan spirit profesionalitas tim yang mengedepankan tanggung jawab panitia akan kegiatan.
e. Mengawasi dan Mengarahkan Pekerjaan
Ketua panitia dalam memimpin tim akan dihadapkan dengan berbagai karakter panitia dalam melaksanakan proses kerjanya. Mulai dari karakter panitia yang mempunyai inisiatif besar dalam bekerja, panitia yang hanya menumpang popularitas, panitia yang bekerja apabila diperintah dan panitia yang bekerja apa bila melihat orang lain bekerja. Maka pada situasi tersebut sosok ketua panitia harus dapat menjawab persoalan itu dengan memaksimalkan pengawasan dan pengarahan pekerjaan agar semua panitia dapat bekerja dan menghasilkan suatu kegiatan yang terlaksana dengan sukses.
f. Meminta Hasil Kerja dan Evaluasi
Pada asarnya tim OC terdiri dari beberapa bidang yang menanggung jawapi pada setiap bidangnya. Dalam hal ini ketua panitia diharuskan untuk meminta setipa hasil kerja pada setiap bidang tersebut agar dapat dijadikan referensi laporan kerja. Laporan tersebut akan dibahas dan dievaluasi apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dengan tujuan agar kedepan kinerja panitia lebih baik lagi.
IX. PELAKSANAAN KEGIATAN YANG EFEKTIF
Organizing Committee (OC) bercita-cita agar kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik dan sukses. Pelaksanaan kegiatan yang efektif dituntut besar oleh bagaimana kinerja tim OC dalam melaksanakan kegiatan itu. Suatu upaya bagaimana menghasilkan suatu kegiatan yang efektif dalam membentuk ti OC yang baik adalah:
a. Usahakan kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana
b. Siapkan rencana cadangan apabila situasi dan kondisi berubah. Cth: pembicara tdk hadir
c. Antisipasi segala kemungkinan dengan menyiapkan alternatif pengganti.
d. Apabila semua usaha telah dicoba maka hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT
X. EVALUASI KEGIATAN
Proses akhir yang dilakukan oleh kepanitiaan sebagai tim OC yang baik adalah pengevaluasian kegiatan. Evaluasi berfungsi sebagai media untuk menilai sejauh mana kinerja tim dalam pelaksanaan kegiatan. Pengevaluasian tidak hanya dilakukan pada saat selesai kegiatan, akan tetapi evaluasi juga penting dilakukan apabila kondisi kepanitiaan dalam keadaan tidak kondusif.
Berikut adalah bagaimana tim OC melakukan pengevaluasian kegiatan atas kinerja panitia:
a. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kegiatan sudah dilaksanakan dengan baik, jika ada penyimpangan dapat diperbaiki dan sebagai bahan pertimbangan untuk kegiatan selanjutnya.
b. Evaluasi tidak hanya dilakukan setelah kegiatan selesai tapi harus diadakan pada masa persiapan dan pada saat pelaksanaan kegiatan.
c. Buatlah kriteria keberhasilan secara umum dan khusus untuk masing-masing bagian dalam kepanitiaan.
d. Bandingkan hasil pelaksanaan kegiatan dengan kriteria yang sudah dibuat.
e. Evaluasi bisa dilakukan dengan meminta pendapat dari peserta kegiatan baik secara lisan maupun tulisan.
f. Buat laporan hasil kegiatan serta evaluasinya.
BIODATA PRIBADI:
Nama : Rizki Maulana
TTL : Langsa, 8 November 1988
Alamat : Jl. H. Agus Salim Kp. Blang Lr. Damai No. 35 Kota Langsa
Pekerjaan : Mahasiswa
Universitas : Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan
Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP)
Prodi : Ilmu Administrasi Negara (IAN)
Organisasi : - Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Langsa (IMLA) Medan
- Sekretaris Umum Pengurus Komisariat PMII UISU
- Menteri Pemuda & Olah Raga Pemerintahan Mahasiswa UISU
Motto Hidup : Berfikir, Berbuat dan Bergerak
About Me
- Rizkie Maulana
- Rizkie Maulana adalah seorang anak pertama dari 4 bersaudara yang saat ini sedang menuntut ilmu di kota Medan dengan spesialisasi pendidikan dan konsen terhadap sosial dan politik
Entri Populer
-
Tidak dapat dipungkiri bahwanya pasca diberlakukannya UU tentang otonomi daerah dan kehidupan politik dengan penerapan pemilihan langsung un...
-
IKATAN MAHASISWA LANGSA ( I M L A ) MEDAN Ikatan Mahasiswa Langsa (IMLA–Medan), yang didirikan pada tanggal 09 Oktober 2003, IMLA–Med...
-
I. PENDAHULUAN Organizing Commitee berasal dari kata Organisasi dan Komite . Organisasi yaitu kumpulan orang-orang ...
-
Ikatan Mahasiswa Langsa - Medan (IMLA - Medan) telah berhasil menyelenggarakan event futsal yang bernama IMLA FUTSAL COMPOTION pada tanggal ...
Pergerakanku
Forum Silaturrahim Anak Langsa



